Menurut kamus, "passion is a strong feeling". Passion adalah ketertarikan dan hasrat yang menggebu-gebu terhadap sesuatu. Sadar tidak sadar setiap orang pasti punya passion. Termasuk saya dan suami saya. Saat ini saya tidak akan menceritakan tentang passion saya melainkan passion belahan jiwa saya :).
Kami menikah tepat setahun yang lalu tanggal 16 Juni 2012. Setelah tiga tahun mengenalnya, cukup bagi saya untuk mengetahui apa yang menjadi ketertarikan dan hasratnya. Suami saya sebenarnya dulu mengambil kuliah jurusan Pendidikan Teknik Elektro, yang notabene ujung-ujungnya adalah bakal menjadi seorang guru elektro. Namun di luar pendidikan resminya, dia sering bergaul dan dipercaya untuk membuat video-video kecil untuk perkumpulannya. Dari situ benih-benih video editor itu muncul dalam dirinya.
Setelah lulus dari pendidikannya, bukannya memilih untuk bekerja sebagai guru, suami saya malah memilih untuk mencari pekerjaan sebagai video editor dan photographer. Tentu saja hal tersebut sempat tidak disetujui oleh kedua orang tuanya, karena menurut mereka pekerjaan guru lebih "pasti" dan menjanjikan dibandingkan menjadi seorang freelance video editor or photographer.
Selama masa pencarian pekerjaan, suami saya tetap bersikukuh ingin menjadi seorang pembuat video yang handal. Setiap hari dia berlatih dengan semua teknologi yang ada. Seperti berlatih dengan kameranya (otak atik sana-sini, shoot sana-sini, jepret sana-sini), dengan laptopnya seperti mendownload semua video-video yang menurutnya bagus, menganalisis bagaimana video itu dibuat dan belajar mengedit video dengan menggunakan beberapa software untuk meningkatkan softskill dia. Bahkan menerima pekerjaan foto dan video pernikahan untuk temannya tanpa bayaran.
Tahukah apa yang dia lakukan yang membuat saya akhirnya mengerti ada bakat terpendam dalam dia untuk menjadi video editor?
Selama dia belum mendapat pekerjaan, dia mengikuti kompetisi-kompetisi video. Berbagai kompetisi video kreatif dia ikuti. Dia mengumpulkan teman-temannya untuk menjadi model, melakukan shooting, dan editing video. Dari mulai konsep cerita, jalan cerita, pelaksanaannya, dia semua yang kerjakan. Yang membuat saya kagum adalah hampir semua kompetisi yang dia ikuti pasti menang. Entah itu juara 1, juara 2, juara 3, jalan-jalan ke Thailand, atau jalan-jalan ke Bali. (tapi saya ga ikut ke tempat-tempat itu,,,, hiks).
Dia bahkan pernah memenangkan suatu hadiah, lalu dia jual dan uangnya diberikan kepada saya untuk ditabung guna pernikahan kami. (Saat itu kami sedang pacaran dan sedang giat menabung untuk bisa menikah).
Setelah menikah, karena anugerah Tuhan suami saya mendapatkan pekerjaan saat ini sebagai video editor. Walaupun masih bekerja di perusahaan yang tidak terlalu besar dan latar belakang pendidikan yang berbeda namun kemampuannya dalam mengedit video sudah dapat dibuktikannya.
Hidden passion suami saya untuk menjadi seorang video editor tidak terlepas dari bantuan teknologi yang dia pakai. Apakah itu? banyak sih, di antaranya adalah kamera, tripod, lighting, mic, soundcard untuk merekam suara atau musik dan yang terpenting adalah laptop untuk mengedit video.
Oiya, laptop yang dia gunakan untuk mengedit video selama ini adalah notebook kesayangan dia satu-satunya. Ada satu hal yang disayangkan dan saya ingin sekali sebenarnya membelikan laptop yang baru untuk dia. Jadi satu waktu kami makan di restoran cepat saji, dan minuman soda yang tersisa kami masukkan ke dalam botol minuman saya yang biasa saya bawa kemana-mana. Lalu dia memasukkan botol itu ke dalam tas ranselnya. Baru beberapa menit, ternyata tas dia sudah basah karena botol minumannya terbuka secara tiba-tiba. Kami panik sekali saat itu, karena kami tahu di situ ada laptopnya.
Yap! Setelah langsung dilap dan dikeringkan. Laptop dinyalakan, masih hidup dan dapat digunakan. Namun di layarnya terdapat bercak-bercak noda yang sepertinya dari dalam dan nggak bisa diapa-apakan lagi. (HIKS...!). Layar laptopnya jadi kaya gini teman-teman.... :'(
Sebagai seorang editor dan banyak menjelajah dunia dengan laptop, bagi saya noda-noda di layar itu sangat mengganggu, namun entah kenapa suami saya masih tahan mantengin laptopnya itu. Ketika saya tanyakan "kok tahan sih?". Dia dengan santai menjawab "it is not about the gun, it is about the man behind the gun". Saya melihat benar bahwa hal-hal seperti itu tidak memadamkan spirit dan semangat dia dalam ber-video. Dengan kondisi laptop seperti itu saja dia tetap mampu berkreasi membuat video-video cantik, apalagi dengan teknologi yang lebih baik seperti Acer Aspire P3. (Pasti lebih yahuud! hehehehe)
Saya percaya jika dia menggunakan Acer Aspire P3, dia dapat mengedit videonya dimanapun dengan kecepatan yang tinggi. Prosesor Intel Core i5 3339Y pada teknologi ini berjalan pada kecepatan 1.5GHz dilengkapi dengan turbo boost mampu mencapai kecepatan 2GHz. Memori yang disediakan sebesar DDR3 2GB dan sudah menggunakan SSD dengan kapasitas 120GB. WoW! pasti akan membuat dia bersemangat dalam bekerja.
Saya percaya jika dia menggunakan Acer Aspire P3, dia dapat mengedit videonya dimanapun dengan kecepatan yang tinggi. Prosesor Intel Core i5 3339Y pada teknologi ini berjalan pada kecepatan 1.5GHz dilengkapi dengan turbo boost mampu mencapai kecepatan 2GHz. Memori yang disediakan sebesar DDR3 2GB dan sudah menggunakan SSD dengan kapasitas 120GB. WoW! pasti akan membuat dia bersemangat dalam bekerja.
Benih yang dia miliki tetap berusaha ditumbuhkannya hingga menjadi suatu tanaman yang berguna untuk yang lain. Tantangan apapun tidak dijadikannya sebagai hambatan. Saya percaya suatu saat nanti suami saya akan menjadi orang yang hebat dalam bidangnya. (Amin)
Saya pernah mendengar sesuatu yang baik tentang passion di antaranya :
" Passion kita adalah saat sesuatu yang kita mampu dan senang mengerjakannya bertemu dengan kebutuhan orang lain dan menjadi berguna" (Libertha Hutapea)
dan ada juga suatu quote :
“Passion only matters if it leads to an innovation that delivers an impact, whether that impact is measured in revenues, profits, improved process performance or something entirely [different]”
(http://www.talentanalytics.com/blog/passion-meet-competence/)
Sama seperti dengan kisah Vernon bersama Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook di YouTube Acer Indonesia. Saat itu DJ Tiesto membutuhkan bantuannya agar show dapat terus berjalan tanpa putus dan kebetulan kompetensi Vernon dan passionnya sebagai DJ bertemu dengan kebutuhan show tersebut. Inovasi dan keberanian Vernon menghasilkan suatu keuntungan yaitu kepuasan setiap orang yang menonton, kepuasan dari DJ Tiesto dan pihak si penyelanggara acara. Vernon puas, DJ Tiesto puas, penonton puas, semua puas. Tidak hanya itu, saya percaya jalan Vernon untuk menjadi DJ akan semakin terbuka ketika batu itu berhasil dia diloncati. Semuanya itu berkat ketekunan dalam memupuk benih dan keberanian untuk mengambil kesempatan yang ada.
Jika ada yang bertanya kepada saya "Lah, kalau hidden passion kamu apa, kok ga diceritakan disini ?" Well, akan saya ceritakan di lain artikel pastinya. Bagian saya sebagai istri sekarang adalah tetap mendukung suami agar dapat mencapai his highest passion.
Jadi teman-teman! Keep the spirit in your passion. Apapun passion-mu! Tanam, pupuk, airi, biarkan berakar dan bertumbuh hingga menjadi pohon yang besar,kuat dan banyak mahluk hidup dapat bernaung di bawahnya. :)



waduh, turut berduka atas laptopnya deh, ditunggu visit backnya ya http://pengkarya.blogspot.com/2013/06/found-hidden-passion-bareng-acer.html
ReplyDeletemakasih.... semangat... :)
DeleteGreat story Ju..., thanks for sharing and inspiring. Seneng akhirnya lu nulis lagi, dan akhirnya gw buka blog lagi setelah setahun, haha. Btw ignore comment gw yg sblmnya, krn kayaknya tah pake account siapa itu gw commentnya, hehe.
ReplyDeleteayoo cha,, nulis lagi,, hahaha,,, mana surat teh? hihihi
ReplyDelete